Laman

Motor Listrik

Motor Listrik merupakan perangkat penggerak yang banyak digunakan dalam proses industri,bagaimana cara kerjanya??. Pelajari lebih lanjut dalam tulisan ini.

Motor AC 3 Phase

Motor listrik AC 3 phase merupakan penggerak yang banyak digunakan dalam aplikasi industri, bagaimana bekerjanya? Pelajari lebih lanjut dalam tulisan ini.

Pengaturan Kecepatan Motor Listrik (2)

Bagaimana mengatur kecepatan putaran motor 3 Phase? Pelajari lebih lanjut pada tulisan ini.

Pengaturan Kecepatan Motor Listrik (1)

Bagaimana caranya mengatur putaran motor listrik?? Pelajari selengkapnya dalam tulisan ini.

Motor AC 1 Phase

Motor listrik memiliki beragam jenis, salah satunya motor AC 1 phase. Pelajari selengkapnya di sini.

Jumat, 31 Mei 2013

Konversi Bilangan

(sumber : http://devamelodica.com/wp-content/uploads/2012/03/Konversi-Bilangan-300x225.jpg)
Konversi bilangan merupakan suatu proses untuk mendapatkan bilangan tertentu dari bentuk bilangan yang lain. Dalam elektronika digital ada beberapa bentuk bilangan yang digunakan dalam persamaan atau operasinya. Bentuk bilangan yang digunakan antara lain :
  1. Bilangan Desimal
  2. Bilangan Biner
  3. Bilangan Oktal
  4. Bilangan Heksadesimal
1. Bilangan Desimal
Bilangan desimal merupakan bilangan berbasis 10 (sepuluh) yang biasa kita gunakan dalam keseharian. Angka yang dipakai sebanyak 10 angka yaitu [0,1,2,3,4,5,6,7,8,9]. Bilangan yang dihasilkan merupakan kombinasi dari angka-angka tersebut, dengan angka 0 sebagai bilangan terkecil dan angka 9 sebagai bilangan terbesar.

2. Bilangan Biner
Bilangan biner merupakan bilangan berbasis 2 (dua) merupakan bilangan yang banyak digunakan dalam elektronika digital yang menunjukan kondisi bertegangan atau tidak. Angka yang digunakan sebanyak 2 angka yaitu [0,1] jadi untuk merepresentasikan nilai tertentu menggunakan kombinasi angka 0 dan 1.

3. Bilangan Oktal
Bilangan oktal merupakan bilangan berbasis 8 (delapan). Angka yang digunakan sebanyak 8 angka yaitu [0,1,2,3,4,5,6,7]. Bilangan terkecil yang digunakan adalah angka 0 (nol), dan bilangan terbesar yang digunakan adalah 7 (tujuh).

4. Bilangan Hexadesimal
Bilangan heksadesimal merupakan bilangan berbasi 16 (enambelas). Angka yang digunakan sebanyak 16 angka yaitu [0,1,2,3,4,5,6,7,8,9,A,B,C,D,E,F]. Angka setelah 9 digantikan dengan bilangan berupa huruf A sampai dengan F agar tidak tertukar dengan bilangan desimal. Jadi nilai 10 digantikan huruf A, 11 oleh huruf B, 12 huruf C, 13 huruf D, 14 huruf E, dan 15 huruf F.

Penulisan bilangan dapat dilihat pada tabel berikut:
(sumber: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjIfpCfNtWrhD616LoWTE-8AAf0Pr1FZisOyZmN_QJR3tmhfOh0jSTYjUoWny1kBiD256hCF1zH-cwK7_pu2XPg3igvQ_SVgoV4hpMcXPfbRTmtJj5RBFj-JSn7LMPi7aky_32KMgY2mlpc/s320/sistem+bilangan.bmp)

KONVERSI BILANGAN

Pada suatu operasi, terkadang diperlukan perubahan bilangan dari satu bentuk ke bentuk bilangan yang lain yang dapat diproses oleh sistem.

1. Konversi Bilangan Desimal ke Biner
Untuk mengubah nilai bilangan dari bilangan desimal ke bilangan biner, proses yang dilakukan adalah membagi 2 bilangan bulat desimal, kemudian sisa pembagiannya merupakan digit binernya.
Contoh:
(sumber: http://www.teknikkomputer.com/wp-content/uploads/2013/02/Desimal-Ke-Biner.jpg)
Pada contoh di atas, bilangan 45 desimal akan diubah ke bilangan biner. Proses yang dilakukan 179 dibagi 2 sampai habis dan diambil hasil bulatnya dan sisa pembagianya hanya akan ada 0 jika genap dan 1 jika ganjil. Sisa pembagian merupakan digit biner yang digunakan sebagai hasil konversi. Penulisan bilangan biner dimulai dari sisa pembagian terbawah ke sisa pembagian paling awal. Jadi pada contoh di atas biner dari 205 desimal adalah 11001101(2). Bit atau digit yang paling kanan (dekat dengan penanda jenis bilangan) merupakan bit dengan nilai paling rendah atau LSB (Least Significant Bit) sedangkan bit yang paling kiri merupakan bit dengan nilai paling tinggi atau MSB (Most Significant Bit).

2. Konversi Bilangan Biner ke Bilangan Desimal
Pengkonversian bilangan dari bilangan biner ke desimal dilakukan dengan mengkalikan bit biner dengan 2^(n-1) dimana n merupakan posisi bit biner yang bersangkutan.
(sumber: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhEbdQ2xzMP2ACQIvH65vtRJX3FC-FJ6hAx2ksUYtuYwBjciTC1GKJ_aJNnU7tLTX7lW8zHJvmd7rfCicQd7BZhIhdoZnpQsFH0iyyVO0LZCUoUfUKcuSLspL4ovw1EgWtxc4Qqh2FoTTSM/s320/kk.jpg)
Pada contoh di atas, biner 11001(2) diubah menjadi desimal, caranya dengan mengalikan bit biner dengan 2^(n-1). Posisi bit dihitung dari LSB.

3. Konversi Bilangan Desimal ke Bilangan Oktal
Pada pengubahan bilangan desimal ke bilangan oktal, cara yang dilakukan hampir sama dengan pengubahan dari bilangan desimal ke bilangan biner, hanya saja bilangan pembaginya adalah 8.
Contoh:
(sumber: http://blog.student.uny.ac.id/riezkyindriani/files/2011/10/desimal-oktal.jpg)
Penulisan hasil konversinya juga dituliskan dari sisa pembagian terakhir ke sisa pembagian paling awal.

4. Konversi Bilangan Oktal ke Bilangan Desimal
Pengubahan bilangan oktal ke bilangan desimal dilakukan dengan cara yang sama dengan proses pengubahan bilangan biner ke desimal, hanya saja bilangan pengalinya adalah 8. Jadi nilai bilangan didapat dari jumlah digit oktal dikali 8^(n-1).
Contoh:
(sumber : http://blog.student.uny.ac.id/riezkyindriani/files/2011/10/oktal-desimal9.jpg)
5. Konversi Bilangan Desimal ke Bilangan Heksadesimal
Pengubahan bilangan desimal ke heksadesimal dilakukan dengan cara yang sama seperti pengubahan dari desimal ke biner hanya saja bilangan pembaginya adalah 16 (enambelas). Untuk sisa pembagian diatas 9 (10 sampai 15) digantikan dengan huruf A sampai F
Contoh:
(Sumber: http://blog.student.uny.ac.id/riezkyindriani/files/2011/10/desimal-heksa-11.jpg)
6. Konversi Bilangan Heksadesimal ke Bilangan Desimal
Proses pengubahan nilai bilangan heksadesimal ke bilangan desimal dilakukan dengan mengalikan digit bilangan heksadesimal dengan 16^(n-1). Sama seperti pengubahan bilangan Biner atau Oktal ke bilangan desimal, hanya yang berbeda adalah bilangan pengalinya. 
Contoh:
(Sumber: http://blog.student.uny.ac.id/riezkyindriani/files/2011/10/heksa-desimal-6.jpg)
7. Konversi Bilangan Biner ke Oktal
Untuk mengubah bilangan biner ke bilangan Oktal cukup mudah, cara yang sederhana yaitu dengan mengelompokan digit biner menjadi 3 kelompok bit dari LSB, kemudian kelompok-kelompok 3 bit tersebut diubah menjadi angka desimal.
Contoh: 
biner : 11001110(2) => 11   001    110
                                     3       1        6
           hasil konversinya = 316(8)

9. Konversi Bilangan Oktal ke Biner
Untuk mengubah bilangan oktal ke biner merupakan kebalikan dari proses pengubahan biner ke oktal. Jadi tiap digit oktal diubah menjadi biner 3 bit. Jika hasil pengubahan kurang dari 3 bit maka ditambahkan 0 di depan.
Contoh: 63(8) =>       6          3
                              110       11 => karena kurang dari 3 bit maka ditambahkan 0
                              110      011
             Hasil Konversi = 110011(2)

8. Konversi Bilangan Biner ke Heksadesimal
Untuk mengubah biner ke heksa desimal mirip dengan pengubahan biner ke oktal, hanya bedanya pengelompokan bit binernya. Jika pada konversi biner ke oktal bit biner dikelompokkan 3 bit, maka pada konversi biner ke heksadesimal bit biner dikelompokan 4 bit. Kemudian kelompok 4 bit tersebut diubah ke bilangan desimal.
Contoh: 11001110(2) => 1100     1110
                                        12          14     (karena desimalnya diatas 9 maka digantikan dengan huruf)
                                         C           E       
            hasil konversinya = CE(16)

9. Konversi Bilangan Heksadesimal ke Bilangan Biner
Mengubah bilangan heksa desimal ke bilangan biner, dilakukan dengan cara mengubah digit bilangan heksadesimal ke bilangan biner 4 bit. Jika hasil pengubahan hanya menghasilkan biner kurang dari 4 bit maka ditambahkan digit 0 didepan hingga berjumlah 4 bit.
Contoh: F4(16) =>     F            4
                           1111      100 => karena hanya 3 bit ditambah 0 di depan
                           1111     0100
            Hasil Konversinya = 11110100(2)

10. Konversi Bilangan Heksadesimal ke Bilangan Oktal
Untuk mengubah bilangan heksadesimal ke bilangan oktal lebih mudah dilakukan dengan cara mengubah bilangan heksadesimal ke bilangan biner, kemudian bilangan biner diubah ke bilangan oktal dengan pengelompokan seperti di atas.
Contoh : F4(16) =>        F             4
                                1111       0100
              Biner F4(16) = 11110100(2) => dikelompokan 3 bit untuk mengubah menjadi oktal
                                 011      110     100 => masing-masing kelompok diubah menjadi desimal
                                   3           6         4
             Hasil konversi = 364(8)
11. Konversi Bilangan Oktal ke Bilangan Heksadesimal
Untuk mengubah bilangan Oktal ke heksa desimal lebih mudah dengan cara mengubah tiap digit bilangan oktal menjadi bit biner 3 bit. Setelah didapat binernya kemudian diubah ke Heksa dengan mengelompokan bit biner 4 bit lalu diubah menjadi digit desimal.
Contoh : 346(8) =    3          6           4
                           011      110       100
             Biner 346(8) = 11110100(2) => dikelompokan 4 bit untuk mengubah menjadi heksadesimal
                                   1111   0100
                                     15        4    => nilai 15 pada heksadesimal diganti F
                                      F         4
             Hasil Konversi = F4(16)

Kamis, 30 Mei 2013

DIGITAL DASAR


Teknik Digital merupakan suatu revolusi besar dalam perkembangan teknologi elektronika. Berbagai macam perangkat elektronika diciptakan menggunakan konsep elektronika digital. Mulai perangkat elektronika rumahan sampai dengan perangkat komunikasi mutakhir bahkan perlengkapan militer canggih dibuat menggunakan prinsip elektronika digital. Jadi apakah digital itu?

Digital merupakan sistem komunikasi data dimana sinyal data ditransmisikan dalam bentuk pulsa yang dapat mengalami perubahan mendadak dan memiliki besaran 0 dan 1. Sedangkan analog adalah sistem komunikasi data dimana data ditransmisikan dalam bentuk gelombang kontinyu dimana informasi disisipkan dalam gelombang kontinyu dengan mengubah amplitudo, atau frekuensi. Sinyal digital hanya memiliki kondisi 0 dan 1 sehingga tidak mudah terpengaruh oleh derau (noise).

Sinyal digital memiliki keistimewaan yang unik, diantaranya sebagai berikut:

  • Mampu mengirimkan informasi dalam kecepatan cahaya (ex. data pada fiber optic transmision).
  • Penggunaan data berulang-ulang tidak mengurangi kualitas atau kuantitas informasi.
  • Informasi mudah didapat dan diubah ke berbagai bentuk.
  • Dapat memproses informasi dalam jumlah besar dan mengirimkannya secara interaktif.
Dengan keunggulan tersebut, maka banyak sistem digital yang dikembangkan antara lain:

  • Telepon Seluler
  • Komputer
  • Jam Digital
  • Kamera Digital
  • Televisi Digital
  • dll.
Pada sinyal digital, terdapat 2 kondisi yaitu 0 dan 1. Masing-masing kondisi tersebut disebut bit. Jika terdapat data sebanyak 3 kondisi misalnya 110 maka data tersebut disebut data 3 bit. Selain bit ada juga beberapa istilah yang digunakan untuk menyatakan panjang data digital yaitu:

  1. bit : satuan data digital terkecil terdiri dari 1 buah kondisi.
  2. nibble : satuan data yang terdiri dari 4 bit kondisi.
  3. byte : satuan data yang terdiri dari 8 bit kondisi.
  4. word : satuan data yang terdiri dari 16 bit kondisi.
Dengan adanya 2 kemungkinan kondisi 1 dan 0, maka untuk data sepanjang 2 bit terdapat 2^2 atau 4 variasi data. jika terdapat data sepanjang n bit, maka variasi data ada 2^n variasi data.

Dalam mempelajari elektronika digital, ada beberapa pengetahuan dasar yang mungkin perlu diketahui, diantaranya:

  1. Konversi Bilangan
  2. Gerbang Logika/ Logic Gate & Penyederhanaan rangkaian logika

Senin, 20 Mei 2013

Transistor


Transistor merupakan salah satu komponen semikonduktor yang banyak digunakan pada rangkaian elektronika.
Transistor dalam rangkaian elektronika banyak digunakan sebagai penguat, sirkuit pemutus dan penyambung (switching). Transistor memiliki 3 kaki yaitu Basis, Kolektor, dan Emittor. Sebelum menggunakan semikonduktor, transistor dibuat dari tabung vakum dengan ukuran yang cukup besar (seperti gambar di atas). Ada dua jenis transistor yaitu BJT (Bipolar Junction Transistor) dan FET (Field Effect Transistor) yang masing-masing memiliki cara kerja yang berbeda.

Pada dasarnya, transistor terbentuk dari 2 buah dioda yang dipasang berhadapan dengan konfigurasi Anoda-Katoda-Anoda atau Katoda-Anoda-Katoda.

Ada dua jenis transistor menurut sambungan di atas yaitu tipe NPN dan tipe PNP. Simbol dari transistor ditunjukan oleh gambar di atas. Transistor mempunyai 3 kaki dari hasil sambungan, yaitu kaki BASIS yang terletak di tengah simbol, kaki EMITOR yang memiliki tanda panah, dan kaki KOLEKTOR yang berseberangan dengan kaki Emitor. Jenis NPN simbolnya ditandai dengan kaki EMITOR yang arah panahnya keluar, sedang jenis PNP simbolnya ditandai dengan kaki EMITOR yang arah panahnya masuk ke BASIS. Berbeda jenis transistornya maka berbeda pula pembiasannya:

1. PEMBERIAN TEGANGAN BIAS PADA TRANSISTOR PNP
Emitor (E) harus mendapat muatan listrik negatif, kaki kolektor(C) harus mendapat muatan positif tetapi muatan tersebut harus negatif terhadap muatan pada emitornya.

2. PEMBERIAN TEGANGAN BIAS PADA TRANSISTOR NPN,kaki basic harus mendapat muatan positif tetapi muatan itu harus negatif terhadap kolektor(C).


PENGUAT TRANSISTOR

Transistor dapat difungsikan sebagai penguat. Ada beberapa konfigurasi penguat transistor yaitu:

  • Penguat Common Emitor
  • Penguat Common Basis
  • Penguat Common Colector
  • Penguat Darlington
  • 1. Penguat Common Emitor/ Emitor Bersama


  • Penguat Emitor bersama merupakan konfigurasi penguat transistor dimana kaki Emitor ditanahkan (di Groundkan), kaki Basis sebagai input, dan kaki Kolektor untuk keluaran/ output.

    Konfigurasi Common Emitter

    Dinamakan emiter bersama karena kaki emiter digunakan bersama pada input dan output. Rangkaian penguat emitor bersama ini memiliki karakteristik sebagai berikut:
    • Berbeda fasa 180 derajat antara sinyal input dengan outputnya.
    • Tegangan output diperkuat.
  • 2. Penguat Common Base/ Basis Bersama
  • Penguat basis bersama merupakan penguat transistor dimana kaki Basis ditanahkan (digroundkan), kaki Emitor sebagai output, dan kaki Kolektro sebagai input.
  • Konfigurasi Common Base
    (sumber : http://elka.ub.ac.id/praktikum/analog/img/1-rangk1.jpg)
    Dinamakan Basis bersama karena kaki basis digunakan bersama untuk ground input dan ground output. Rangkaian penguat basis ini memiliki karakteristik berikut:
    • Memiliki isolasi input dan output tinggi.
    • Impedansi Inputnya tinggi.
    • Banyak digunakan pada penguat tegangan frekuensi tinggi.
    • Dapat dipakai sebagai buffer atau penyangga
    • Penguatan arus 1x
    3. Penguat Common Colector/ Kolektor Bersama
    Penguat common colector/ kolektor bersama merupakan penguat transistor dimana kaki Kolektor ditanahkan, kaki Basis sebagai input, dan output di kaki Emitor.
    Konfigurasi Common Collector
    (Sumber : http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/6/6e/Common_collector.png)

    Rangkaian penguat common collector memiliki karakteristik berikut:
    • Sinyal Ouput sefasa dengan input.
    • Penguatan tegangan 1x
    • Penguatan arus tinggi
    • Impedansi input tinggi dan impedansi output rendah


    Jumat, 08 Juni 2012

    Dioda (2)

    Macam-macam Dioda
    Ada berbagai macam jenis dioda yang masing-masing memiliki fungsi yang berbeda. Pemilihan jenis dioda disesuaikan dengan penggunaannya dalam rangkaian. Diantaranya adalah:

    1. Dioda Rectifier/Dioda Penyearah
    Dioda rectifier ini merupakan dioda standar yang biasa digunakan sebagai penyearah arus karena sifatnya yang meneruskan arus hanya satu arah saja. Dioda ini memiliki densitas yang lebih tinggi di area forward, dan memiliki dan ketahanan temperatur pemblokiran yang cukup tinggi. Dioda ini memiliki tegangan threshold yang rendah dan frekuensi cut-off yang tinggi. Dioda ini biasa digunakan untuk penyearah arus AC, dan membatasi tegangan dari power supply.
    Simbol Dioda
    (Sumber: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/b/b4/Diode_symbol.svg/140px-Diode_symbol.svg.png)
    Dioda Rectifier
    (  http://www.effectsconnection.com/oscommerce/images/1n4005diode.jpg)
    2. Dioda Zener/ Zener Diode
    Dioda Zener mirip dengan diode biasa hanya saja komposisi dopingnya diperbanyak, sehingga tegangan breakdown yang semula tinggi dapat diperoleh nilai yang rendah. Pemakaian dioda ini sebenarnya memanfaatkan sifat tegangan breakdown yang dimilikin dioda, dengan adanya karakteristik ini dioda akan mengalirkan arus jika sudah mencapai tegangan breakdown tertentu. Sifat ini dimanfaatkan untuk pengaturan tegangan atau regulator tegangan. Jika pada dioda biasa saat mencapai tegangan breakdown akan membuat dioda rusak, akan tetapi pada dioda zener, meskipun mencapai tegangan breakdown tapi tidak akan merusak dioda tersebut. Jadi pemasangan dioda ini dengan sengaja memberikan reverse bias pada dioda tersebut. Pemilihan dioda zener ini disesuaikan dengan tegangan breakdown yang dimilikinya seperti 5V, 12V, dll.

    Simbol Dioda Zener
    (Sumber:   http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/7/7f/Zener_diode_symbol.svg/140px-Zener_diode_symbol.svg.png) 
    Gambar Dioda Zener
    (Sumber:  http://indo-ware.com/foto_produk/51do_41.jpg)  
    Pemasangan Dioda Zener
    (Sumber:  http://datasheetoo.com/wp-content/uploads/2009/06/zener-diode-shunt-regulator-circuit-diagram-thumb.jpg)  
    3. Dioda Schottky/ Schottky Diode
    Dioda ini terdiri dari sambungan p-n dengan lapisan metal, yang dioksidasi pada doping silikon lapisan n. Lapisan metal ini bisa berupa alumunium atau nickel. Pada saat threshold tegangannya 0,3 volt. Pada dioda ini tidak terdapat kapasitas difusi karena tidak ada karier yang berdifusi.
    Konstruksi Dioda Schottky
    (Sumber:  http://sci.esa.int/science-e-media/img/61/Schottky-diode410.jpg)  
    Karena tidak ada carier yang berdifusi membuat respon dioda ini sangat cepat dalam orde nanosecond untuk berganti kondisi dari mengalirkan arus ke tidak ada arus, sehingga banyak digunakan pada rangkaian-rangkaian yang membutuhkan respon berkecepatan tinggi. Kekurangan dioda ini adalah tidak baik untuk reverse bias.
    Simbol Dioda Schottky
    (Sumber:  http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/c/c9/Schottky_diode_symbol.svg/140px-Schottky_diode_symbol.svg.png)  
    Macam-macam dioda Schottky
    (Sumber:  http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/c/c3/Schottky.jpg/220px-Schottky.jpg)  
    4. Dioda Tunnel/ Tunnel Diode
    Dioda ini terbentuk dari sambungan p-n yang diberi doping dengan konsentrasi yang tinggi. Artinya di kedua bagian baik p atau n semua didoping dengan konsentrasi tinggi. Karena tingkat doping yang tinggi pada kedua bagian, maka hanya tersisa sedikit celah untuk mengalirkan elektron. Setelah cukup banyak elektron yang lewat pada dioda, arus yang melewati celah akan menurun sampai didapat arus normal pada tegangan threshold. Dioda ini biasa digunakan untuk rangkaian dengan frekuensi yang cukup tinggi sekitar (100GHz). Contoh pemakaian dioda tunnel ini adalah pada Microwave dan Lemari Es.
    Simbol Dioda Tunnel
    (Sumber:http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/c/c4/Tunnel_diode_symbol.svg/140px-Tunnel_diode_symbol.svg.png)
    Bentuk Dioda Tunnel
    (Sumber:http://www.physik.uni-augsburg.de/exp6/imagegallery/samples/th-Tunneldiode.jpg)
    5. Light Emitting Diode (LED)
    Light Emitting Diode (LED) merupakan jenis dioda yang dapat memancarkan cahaya apabila mendapat panjar maju (forward bias). Cahaya yang dihasilkan LED berasal dari energi photon yang dipancarkan saat elektron bergabung hole. LED banyak digunakan sebagai lampu indikator pada peralatan, akan tetapi penggunaan LED semakin berkembang sebagai lampu ruangan, lampu lalu lintas, papan reklame, dll.

    Bermacam warna LED
    (Sumber:http://www.shunkinoshita.com/wp-content/uploads/2012/03/LED1.jpg)

    Bagian-bagian LED
    (Sumber:http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/f/f9/LED%2C_5mm%2C_green_(en).svg/245px-LED%2C_5mm%2C_green_(en).svg.png)
    Cahaya yang keluar dari LED merupakan energi yang terpancar dalam bentuk photon saat elektron bergabung dengan hole pada sisi positif. Panjang gelombang dan warna yang dipancarkan berbeda tergantung pada celah diantara sambungan p-n.
    Gambar proses pemancaran cahaya pada LED
    (Sumber:http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/d/d7/PnJunction-LED-E.svg/300px-PnJunction-LED-E.svg.png)
    LED bekerja pada tegangan dan arus yang kecil sekitar 30mA sehingga membuatnya sangat hemat dalam hal pemakaian daya. Cahaya yang dihasilkan juga cukup terang. Untuk bacaan lebih lanjut tentang LED dapat dibaca disini.


    6. Dioda Photo/ Photo Diode
    Photo dioda merupakan jenis dioda yang dapat mendeteksi cahaya, photo dioda dapat mengubah cahaya menjadi arus atau tegangan tergantung dari mode pemakaiannya. Photo dioda ini terbentuk dari sambungan p-n dengan struktur PIN, dimana diantara bagian p dan bagian n diisi dengan semikonduktor intrinsic tipe i, jadi saat ada energi photon dengan intensitas yang mencukupi, maka akan terjadi efek photoelektrik. Photodioda memiliki 2 mode pemakaian yaitu mode photovoltaic yang menghasilkan tegangan (contoh solar sel), dan mode photokonduktif yang akan mengalirkan arus jika terkena cahaya, mode ini biasanya di reverse bisa karena akan sangat mengurangi waktu respon akan tetapi mode ini meningkatkan noise.

    Simbol Photodiode
    (Sumber:http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/2/2b/Photodiode_symbol.svg/220px-Photodiode_symbol.svg.png)
    Bermacam bentuk photodiode
    (Sumber:http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/e/e6/Fotodio.jpg/220px-Fotodio.jpg)
    Pemakaian photodioda banyak pada aplikasi detektor cahaya dan solar sel.

    7. Dioda Varicap/ Dioda Varactor
    Dioda jenis ini merupakan yang digunakan sebagai kapasitor yang terkontrol oleh tegangan. Sebagai kapasitor, dioda ini mampu untuk memfilter frekuensi sehingga banyak digunakan pada rangkaian tunner televisi karena cepat mengunci frekuensi tertentu. Pemasangan dioda ini secara reverse bias agar terbentuk kapasitansi diantara kaki dioda ini.

    Simbol Dioda Varicap/Varactor
    (Sumber:http://www.educarchile.cl/UserFiles/P0001/Image/CR_Imagen/articles-95715_imagen_0.gif)
    Bermacam bentuk dioda varicap
    (Sumber:http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/3/31/Varicap_Doides.jpg/800px-Varicap_Doides.jpg)
    8. Silicon Controlled Rectifier (SCR)
    Merupakan semikonduktor jenis dioda yang memiliki 3 kaki, dimana kaki tersebut adalah Anoda, Katoda, dan Gate. Kaki gate merupakan kaki pemicu, dimana jika ada sinyal trigger di kaki Gate maka SCR akan mengalirkan arus dari Anoda ke Katoda.
    SCR pada arus DC
     Jika pada kaki Anoda dan Katoda diberi sumber DC dengan forward bias, maka SCR belum akan mengalirkan arus. Setelah ada tegangan antara Gate dengan Katoda yang besarnya memenuhi tegangan thresholdnya maka SCR akan dalam kondisi "ON". Kondisi ini akan bertahan meskipun sinyal dari kaki Gate dilepas. SCR baru akan dalam kondisi "OFF" jika arus dari Anoda diputus.

    SCR pada arus AC
    Jika SCR pada arus AC maka yang hanya separuh siklus saja yang dialirkan karena pada siklus positif maka ada aliran arus dari anoda ke katoda, sedangkan saat separuh siklus negatif maka SCR di reverse bias sehingga arus tidak mengalir.

    Simbol SCR
    (Sumber:http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/9/93/Thyristor_circuit_symbol.svg/220px-Thyristor_circuit_symbol.svg.png)
    Gambar bermacam bentuk SCR
    (Sumber:https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgoVveJ-NGgEL47v-vSbrhHZg_2SLWfNCsup1UMhTd6rNoQ_Xk6X-nscVfaUfwEqNsfOGh2vYuotAJerH-SN-WjsAL6OitCcd7smuHA8bB4K9WirK0kXE3ve66WgPt3ceG5IrOHNgXon4g1/s400/scr.jpg)

    Share

    Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites